Kenangan akan perjalanan kerjaku

Baru-baru ini saya jadi pengen nulis tentang pengalaman kerja ku dari awal sampai sekarang ini. Ternyata membahagiakan juga mengingat kenangan dulu , bersama teman-teman di sana dan juga dunia kerja beserta segala isinya( intrik, karir, kerja keras, dampratan, capek, bonus dan sebagainya).
Kesempatan ini aku coba posting beberapa foto dari lokasi kerjaku. Karena keterbatasan materi saya tidak bisa untuk menceritakan kisah atau cerita mengenai kehidupan di masing-masing lokasi kerja. Namun hanya sebatas tentang lokasi dan perusahaan tempat kerjanya saja.

Saya memasuki dunia kerja pada akhir tahun 2003.
Diawali dengan berhasilnya saya bergabung ke PT Global Lintas Media (GLM). Ini adalah grup dari Kompas Gramedia. Mas Jono Ilham, manajer PSDM, yang cocok dengan saya dan akhirnya merekrutku.

Lokasi kerja pertama ku adalah di Toko Buku Trimedia Bookstore yang bertempat di Surabaya. Di sana saya sebagai Supervisor Penjualan.
Sehari-harinya area tugasku adalah di area depan. Foto di atas itu salah satu spot dari area depan toko Trimedia. Tampak di foto dari kiri ke kanan , rekan kami Iin, spv Yoyok, adm Dyah, spv Dody Y ( ini saya ya ).
Tampak buku-buku berserakan di lantai dan tertata rapi di meja display. Itu lah salah satu tanggung jawab dari pekerjaan ku disana. Memastikan buku-buku terdisplay dengan rapi.

Foto di atas itu adalah area back office dari Trimedia bookstore. Tampak di sana dari kiri, ada Sari, Lilis, Dody , spv ADM Evy, Dyah, Ony. Backoffice bukan area kerjaku, tapi musti sering-sering juga ke area ini kan di sana ada telpon, kas, gudang buku, dan interaksi dengan dept lainnya. Masa itu kami spv Penjualan tidak punya meja dan ruang kerja. Jadi saat itu kami numpang di ruang kasir besar ( Lilis ). Jadi sering rebutan komputer saat itu. Kalau pas dapat kerja shift siang , pada malam harinya kami spv berkuasa di backofis karena orang backofis sudah pada pulang.
Beberapa kali saya sendirian lembur sampai jam setengah sebelas malam, karena menghitung uang untuk serah terima besok pagi. Gelap , sepi dan capek. Kalau seram sih ,gak ada itu. 🙂 Ada satu tim penjualan saya , sdri Sari. Kadang dia yang nemenin saya tutup toko, dia kasian lihat saya sendirian. Sari mengira saya takut ama hantu ( padahal enggak). Cuman sepinya itu yang gak saya suka.  Jadinya saya senang juga ditemenin olehnya.

Sedikit cerita saya tuangkan di sini. Satu paragraph ini saya persembahkan buat Sari.
Saya dan Sari cukup dekat juga. Dia banyak memberi saya support.
Kala di Trimedia, benar-benar masa yang berat buatku. Awal buka toko, kan banyak proyek2 ataupun kerjaan lain diluar job desk. Itu sudah membuatku lelah fisik dan pikiran. Ditambah lagi saya tiap hari di marahi sama bos saya. Kayanya wajah saya mirip dengan mantan bos ku itu kali ya, soalnya entah kenapa dia seperti gak suka lihat performku. Tiap ketemu, marah. Mau saya lawan tapi koq gak enak, akhirnya saya cuekin. Eh tambah keki lah dia samaku. Padahal orang pusat pada cocok lho lihat perform ku. Ditambah lagi saya cukup lama crash dengan bos Adm, karena masalah beda idealisme dalam hal sisdural kantor.
Itu semua yang membuat hari-hariku terasa berat. Nah, di situ Sari banyak membantu, baik kerjaan dan support moril.  Salah satu yang saya inget dari supportnya,
katanya, ” mas saya yakin kamu pasti sukses di luar sana kalau sudah keluar dari Trimedia”.
Dan dia pernah ungkapkan juga pendapatnya yang setuju atas sikapku saat aku tidak membenci lawan kerjaku saat disana, yaitu si bos Adm yang telah bertindak berlebihan kepadaku.  Pendapatku itu yang membuatku semakin yakin dan bisa untuk terus mengasihi lawan2 ku sampai saat ini.
Saat itu sih saya berpikir, orang Adm tidak bisa saya salahkan juga, karena dia terbentur dengan tanggung jawab dari tugas kerjanya. Tambah lagi ego tiap orang pasti ikut terbawa.
Sebenarnya banyak yang bisa saya ceritakan tentang Sari , eh Trimedia. Tapi karena ini post tentang perjalanan kerjaku keseluruhan, cerita Trimedia cukup di sini. Di lain kesempatan mungkin akan saya sambung di postingan khusus.

Saya di Trimedia Bookstore selama 2  tahun,2003-2005.  Karena pada maret 2005, kantor pusat dengan Acc langsung big Bos nya, pak Andi S, meng-acc surat mutasi saya. Di kantor pusat itulah , yang saya yakini sebagai awal kenaikan karir kerja saya. Itu awal tebakan dari Sari benar tentang kesuksesanku di luar Trimedia. Saya semangat sekali membaca surat mutasi kerja saya saat itu. Ke kantor pusat gitu lho. Dekat dengan para bos langsung, dan 5 hari kerja euy. Namun sayangnya saya berpisah dengan teman-teman di Trimedia.

Nah itu foto atas, adalah meja kerjaku di kantor pusat. Tepatnya divisiku adalah Divisi import, dengan produk utamanya adalah stationery dan buku. Saya yang pegang buku. Bos  saya disini pak Herman dan mba Regina. Kalau sama 2 bos ini kami fine-fine aja. Bahkan bisa dibilang dekat dan kompak. Bersama melawan ‘serangan’ dari toko dan divisi lain. Lokasi kantor ku ini , di gedung gramedia lt 4, jalan matraman raya jakarta. Waktu itu saya ngekos di sebrang matraman.

Setahun kemudian,dengan dibantu oleh bos ku, saya diangkat menjadi karyawan tetap. Tambah semangatlah aku, karyawan tetap… kan jadi tidak kepikiran lagi mengenai status kontrak kedepannya apakah lanjut atau tidak. 2 tahun saya di kantor pusat GLM ini.

Pada tahun 2007, terjadi akuisisi/merger antara Gramedia dan GLM. Beberapa tim kami berpencar. Saya ditarik oleh 2 bos saya ke Gramedia Pusat Pengadaan Impor.

Packing barang dilakukan secara masing-masing personil. Yang bersangkutan mengemasi dan mensortir barang-barang mana yang harus di bawa dan masih diperlukan di  tempat kerja baru.

Berikut meja kerjaku di Pusat Pengadaan Impor Gramedia ,

Di Pusat pengadaan impor, aku banyak berkembang secara personil,skill dan manajemen. Banyak tugas ku di sini. Aku menangani impor buku, penjualan keluar, bantu proses buku penerimaan buku saat rush musti keluar cepat. Tapi cukup stress juga di sini. Suasana kerjaanya tidak nyaman.
2 tahun aku di sini, sampai tahun 2009. Karena pada tahun 2009 saya memutuskan pindah ke Times Prima Indonesia. Sebelum pindah saya merasa gak enak sama mba Regina. Bos ku sejak di GLM pusat, sampai terakhir itu di PP import. Cukup sulit memahami karakter bos ku ini, pada tahun terakhir kerjaku lah aku baru bisa memahaminya. Namun sayang saya keburu harus berpisah kerja dengan beliau. Tepat 1 bulan sebelum aku menyampaikan surat resign , saya di percaya manajemen untuk menjadi MR ( manajemen representative,yang saat itu dipegang oleh pak Rela ) dan juga sekaligus penanggung jawab laporan KPI (key performance indikator, yang saat itu diemban oleh mba Regina).
Aku gak bisa bayangkan bagaimana bisa 2 tugas baru itu aku jalankan, yang mana tanpa itu saja saya sudah susah bernapas. Tanpa 2 tugas itu saya sudah kewalahan dengan multitasking selama ini. Memang merupakan kebanggaan saya dipercaya manajemen untuk pegang 2 tugas penting itu.  Masih muda , baru, dipercaya 2 tugas penting. Tapi mengingat kerjaanku sudah over, aku ngerasa gak sanggup.
Ya mungkin Tuhan tahu, aku lebih baik di tempat lain. Sehingga Times Prima Indonesia pada saat yang tepat itu menerima lamaran kerjaku. Pada saat yang tepat. Wui…thanks God. Aku gak tahu apa aku melarikan diri atau tidak, tapi sih jelas tidak, karena 3 bulan sebelum aku tahu tentang pengangkatan MR dan KPI itu aku sudah ajukan lamaran ke TPI. Tapi mba Regina merasa aku melarikan diri. Aku gak enak juga, karena aku tahu sendiri beliau juga jelas butuh bantuanku, dia kelabakan juga mengemban KPI itu. Tapi ya aku tahu yang terbaik buatku, aku harus keluar dari Gramedia. Di akhir-akhir masa kerjaku di sini, sebenarnya aku pun sudah mulai kurang cocok dengan kebijakan big boss div impor mengenai pembagian buku impor dan tugas-tugas lainnya.
Di saat acara perpisahan, seorang rekan kerjaku sdri Ine dari divisi lokal memberikan satu kata-kata. Aku mengingatnya sampai sekarang, karena pas betul yang dia ucapkan, sepertinya dia mengetahui pemikiran dan potensiku sekaligus dia menyindir petinggi Gramedia.
” mas Dody tepat sekali untuk pergi dari kantor kita ini, Gramedia terlalu kecil buat, kamu ”
Saya tersenyum mengingat itu, sejatinya saya yang jelas-jelas terlalu kecil buat gramedia. namun dia memang bermaksud sedikit menyindir gramedia yang kurang memerhatikan kesejahteraan karyawannya. Sayang memang, saat itu slogan ‘rajin malas sama saja’ sangat kentara sekali terasa sehari harinya.

Tepat pada bulan mei 2009, aku mulai bergabung dengan Times Prima Indonesia ( merupakan Grup dari Lipp0-Matahari).
Sekali lagi ini merupakan peningkatan karir yang kuraih. Dan bersama TPI aku mempertajam skill negosiasi & inventory manajemen.  Aku bergabung di divisi merchandising sebagai MD executive, posisi assisten manajer merchandising bagian stationery. Disini saya kompak sekali dengan bos ku manajer MD stationery, pak Toteng. Karena kompaknya kami, progress pertumbungan stationery bertumbuh cepat. Bos ini jago soal milih barang, dan saya support di belakang mengenai proses, surat menyurat, display dan sentuhan akhir. Sementara produk yang lebih khusus yang aku tangani adalah DVD, majalah, dan Locust produk (stationery dari singapore). Yang mana ini juga menurut saya mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Namun  , lagi-lagi saya tidak cocok dengan atasan, bos departemen MD kami di sini. Saya tidak cocok dengan caranya memimpin. Orangnya sih baik tapi tidak mengakomodir suara timnya sendiri. Dan saya lihat terkesan mencari muka dan selamat sendiri. Namun saya akui  ketidakcocokan itu karena salah saya juga, tidak bisa berkomunikasi dengan baik ke beliau. Saya terbawa ego saya sendiri, gak suka di atur.

Berikut meja kerjaku ya :

Itu mejaku pertama masuk di TPI. Meja darurat kalau saya bilang. Saya masih terpisah dari teman-teman di MD.

Ini baru mejaku di lokasi dept MD. lebih rapi di sini. dan nyaman. Di sebelah kanan saya pak Toteng. Sementara di belakang, ada sekatnya bos dept kami.

Akhir 2010, saya memutuskan berhenti dari TPI dan sekaligus berhenti dari dunia kerja kantoran. Saya hendak berwiraswasta.

Dan setelah melalui proses, akhirnya pada bulan 9 tahun 2011 tokoku selesai dibangun dan  mulai beroperasi.

Di situlah waktu ku kini sehari-hari. Enjoy banget. Aku bisa kerja sambil menuhin hobiku, baca buku. Sembari menunggu pembeli, aku habiskan waktu membaca.
Semua ilmu yang aku pelajari di dunia kerja aku terapkan di sini. Tanpa musti buang2 waktu dan energi untuk beradu pendapat terlebih dahulu dengan departemen terkait, aku tinggal laksanakan saja. Apa yang menjadi gagasanku dan metodeku, tinggal aku action dan terlaksana.
Aku banyak mendapat ilmu dunia retail dari kantor ku di gramedia. Dan kemudian ilmu MD dan negosiasi banyak aku dapat dari Times Prima Ind dan kursus yang pernah aku ikuti di LPPM jakarta. Semua itu aku coba terapkan sambil belajar langsung mengenai berbisnis nyata milik sendiri. Nuansanya sungguh berbeda.
Di sini bos nya ya aku. Karyawanku sementara ini baru satu. Big boss sih masih ortuku karena aku masih pakai tempat ini kan milik ortu.

Foto di atas; karyawanku sedang memeriksa kunci yang di beli oleh pelanggan. Kunci musti kami pastikan dulu dalam keadaan baik, sehingga kami tidak terima komplain bila ada kerusakan setelah barang keluar dari toko.

Saat aku mengingat semua dari awal kerja sampai sekarang, itu adalah satu rentetan yang tak terputus. Dulu mungkin aku tidak menyadari. Siapapun mungkin tidak menyadari kalau kita masih menjalani. Setelah melalui semua itu baru kita sadar dan bisa melihat lebih jelas.
Seandainya aku tahu itu saat itu semua terkoneksi, mungkin aku akan menjalani dengan lebih keras dan terarah untuk mewujudkan berwiraswasta ini, sehingga bisa lebih cepat aku memutuskan berwiraswasta. Tapi tidak ada yang kusesali. Semua itu kan masih mungkin tidak ada yang tahu.
Yang pasti, saat ini pekerjaanku adalah di sini. Di toko ku.

Kenangan akan perjalanan kerjaku ; by Dody Yordan

Advertisements

About Dody "doydan" Yordan

Learn to write. recently my hobby is photography. Try to start a business
This entry was posted in RAGAM and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Kenangan akan perjalanan kerjaku

  1. yuniva barus says:

    Sepertinya ga cocok mulu am atasan,,,
    Memang dasar kamunya tu bang yg ga mau diperintah,,,
    “Maklum Jawa labil”
    Wkwkwkkwkwkwkwkwkwkwkwkw
    Semangat terus ya,,
    Papah Jesus Bless u,,,

    • Dody "doydan" Yordan says:

      hahaha iya yun, memang itu faktor utama yun, aku gak mau diperintah.
      aku kan shio kuda, bebas dan tahu harus kemana. Makanya berlabuh akhirnya di wiraswasta.
      Bukan labil yun, tapi kebanyakan pertimbangan 🙂

  2. yuniva barus says:

    ad baiknya pertimbangan itu dibarengi dengan ketegasan……..
    penuh pertimbangan tapi tidak tegas sama az nol….
    “ketegasan dalam hal apapun”

  3. sari says:

    tetap selalu optimis memandang masa depan.. dan selalu punya mimpi..bagai mayat hidup klo qt ga punya mimpi..itulah yg q suka darimu dulu mas.. walo kadang terlihat lelah tp ttp semangat n punya mimpi.. 🙂 Semoga sukses dg usahanya skrg ya.. sll diberkati dan jgn lupa ttp bermimpi menemukan belahan jiwa hehehe… yg sdh Tuhan siapkan buatmu.. JBU

    • Dody "doydan" Yordan says:

      wah makasi Sar. atas komenmu. Dan tentunya supportmu dulu itu.
      Tanpa kamu sadari, kamu saat itu berarti sekali lho buatku.
      Iya neh Sar..soal belahan jiwa aku selalu memimpikannya. Entah kenapa sering kandas soal asmara. Tapi ku tak menyerah, kegagalan semakin membuatku dekat dengan keberhasilan.
      Salam buat mas di rumah ya. Semoga berkat Tuhan selalu mengalir atas keluargamu jeng. Keep the faith.
      Oya, tetap support mas supaya stop smoking.

â–‘â–‘â–‘â–‘Buku tamu, komen, pendapat, masukan, silahkan isi di bawah ya : â–‘â–‘â–‘â–‘

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s